Snippet


Seorang Guru besar yang amat Mashur keilmuanya. Beliau adalah seorang filsuf dan teolog muslim yang karya karyanya membuncah ke beberapa penjuru dunia. Ya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i atau yang dikenal dengan Al-Ghazali. Kejayaanya dalam dunia pendidikan tak lantas membuat beliau takabur justru beliau dikenal karena begitu mulia pribadinya berikut Pesan Imam Al Ghazali kepada pelajar , semoga kita dapat menjadi pelajar generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berahlak mulia.






 “Wahai para pelajar yang sedang berkecimpung dalam menuntut ilmu pengetahuan, yang sedang mengabdi dan menggandrungi ilmu, ketahuilah! Sesungguhnya kamu saat sekarang baru berada di tengah-tengah samudera yang luas, yang sedang kamu arungi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan memperdalamnya.”


“Ibarat orang berdagang, maka ‘akad jual-beli yang demikian adalah mendatangkan kerugian yang besar. Di samping dirimu sendiri rugi, orang yang telah mendidikmu akan merasa rugi pula, sebab mereka merasa telah memberikan pertolongan kearah maksiat, menuju jurang kehancuran.


"Ibarat seorang penjual senjata, dia telah menjualnya kepada seorang penjahat di tengah jalan, senjata tersebut digunakan untuk menodong penjual itu sendiri. Demikian nasib gurumu apabila niatmu keliru di dalam menuntut ilmu pengetahuan.”

Dan berikut ini beberapa Tips Sukses untuk menjadi Pelajar dari Imam Al- Ghozali yang saya kutip dari tulisan karya Abunabiel Al-Faqier dalam Blognya yang beliau tulis dari beberapa sumber.http://taqwimislamy.com

1.    Amalakan Ilmumu.
Ilmu adalah harta yang paling berharga diantara harta-harta yang ada di dunia ini. Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Seseorang yang memiliki ilmu kemudian ilmu itu ia amalkan maka akan membawa kebaikan dan keberkahan baginya baik di dunia maupun di akhirat.
Bagi yang menuntut ilmu tetapi tidak diamalkan ilmunya tapi digunakan untuk menunjukan kehebatan dan kekuatan dirinya serta untuk tujuan hal-hal yang berbau keduniaan, maka ilmunya itu hanya akan jadi sia-sia. Yakinlah sesungguhnya ilmu yang tidak diamalkan pasti tidak ada paedahnya.
Amlakanlah ilmu walupun sedikit yang kita miliki. Sampaikanlah ilmu itu walu satu ayat, karena ilmu adalah pelita yang dapat menjadi penerang bagi orang yang sedang berada dalam kegelapan.

2.       JANGANLAH Niat Menuntut Ilmu untuk Mencari Keduniaan.
Saat menjelang ujian tiba berapa banyak malam yang kita gunkan untuk mempelajari ilmu sampai kita tidak tidur. Kita begitu semangat untuk belajar. Menghapal rumus-rumus dan materi perkuliahan lainnya menjadi kebiasaan. Jika semangat dalam belajar itu untuk tujuan mencari materi atau menarik kebutuhan duniawi atau meraih kedudukan dalam hal pangkat keduniaan atau kebanggaan diri di hadapan manusia, maka kerusakan diri pasti akan kita rasakan.
Jika niat kita belajara semata-mata untuk menghidupkan syariat nabi Muhammad dan membersihkan akhlak serta mengalahkan nafsu amarah yang selalu mengajak pada perbuatan jahat, kita tentu akan merasakan kebahagiaan dan keuntungan. Jagalah niat kita dalam menuntut ilmu semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah dan menjemput kemuliaan yang telah di janjikannya.

3.       Ingatlah Akan Kubur.
Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Kematian akan memisahkan kita dengan dunia yang sering membuat manusia terlena. Kemudian kita akan sampai pada sebuah tempat yang paling ditakuti banyak manusia, yaitu alam kubur. Jika dunia ini begitu lapang, selalu indah, mempesona dan enak dipandang mata, tidak demikian halnya dengan alam kubur. Alam Kubur sangat sempit, pengap, gelap dan penuh dengan binatang yang akan mengurai jasad tubuh kita.
Jika didunia seseorang beriman dan beramal shaleh, mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah, maka ia akan merasakan kuburnya lapang dan terang. Tapi tidak demikian halnya bagi yang selama di dunia ingkar kepada Allah. Kuburnya sempit, gelap, dan binatang-binatang penghuni tanah akan segera mengurai jasadnya. Di alam kubur ini ia akan menerima sebagian siksa alloh akibat perbuatan buruknya selama di dunia.

4.       Bertahajudlah Setiap Malam.
Pada sebagaian malam bertahajudlah sebagai bentuk ibadah tambahan bagi kita. Seretlah kaki ini melangkah menuju tempat wudhu kemudian paksakan lutut kita berdiri kokoh walau kantuk begitu munguasai. Rasulullah bersabda,”Wahai pulan, janganlah engkau banyak tidur malam, sbab orang yang banyaka tidur malam itu bisa menjadikan pakir pada hari kiamat”.
Tatkala manusia berselimut mimpi pada malam yang begitu gulita, panjatkanlah do’a dan mohon ampun lah kepada Allah. Karena allah sangat menyukai hambanya yang mendirikan shalat, membaca Al-Qur’an dan berdo’a di sepertiga malam terakhir.

5.       Sesuaikan Perkataan dg perbuatan.
Sesuaikan perkataan dengan perbuatan dan hati menjaga lisan. Allah sangat membenci hambanya yang mengatakan seusuatu tetapi tidak dilakukan dan tidak di amalakannya.
Sesungguhnya lisan yang tidak dikendalikan ucapannya dan hati yang tertutup oleh luapan syahwat merupakan tanda kerusakan. Olehkarena itu jagalah nafsu lisan dengan bertaqarrub kepada allah. Keluarkanlah perkataan yang baik-baik saja atau kalau tidak lebih baik diam.

6.       Berqarublah Kepada Allah.
Sesungguhnya alloh sangat dekat dengan kita, namun hal ini sering tidak kita sadari. Kita merasa jauh dari alloh,padahal jika kita melangkah kepada allah, alloh akan menghampiri kita. Kita akan merasa tentram dan tenang jika bertaqarub kepada alloh. Ada empat hal yang harus dilakukan oleh manusia yang menempuh jalan taqarub (kedekatan) kepada alloh yaitu:
-       Punya keyakinan yang benar kepada Allah dan jauh dari bid’ah.
-       Melakukan taubat nasuha dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi kemaksiatan.
-       Minta keridhaan orang yang pernah menjadi musuh kita.
-       Belajar ilmu agama supaya bias menjalankan perintah allah dengan benar.

7.    Carilah Guru dalam Bertaqarub Kepada Allah.
Apabila kita ingin memperbaiki akhlak, beribadah dan mencari kedekatan dengan Allah maka kita harus memiliki seorang guru yang dapat menunjukan dan juga dapat mengeluarkan kita dari belenggu kebodohan dan membawa kita kepada akhlak yang mulia agar tidak tersesat maka tidak sembarang orang mejadi guru. Adapun syarat menjadi guru yang pantas kita turuti antara lain:
a. Alim, Ciri-ciri orang yang alim ia berpaling dari kesenangan duniawi, ia tidak menyukai pangkat dan kedudukan. Ia juga mempunyai seorang guru alim yang sangat hati-hati terhadap barang subhat dan haram. Gurunya mempunyai gurunya lagi yang alim pula sehingga menyambung terus menerus.
b.   Berakhlak Mulia. yaitu guru yang mampu mengendalikan nafsunya, sedikit makannya, berbicara dan tidurnya. Ia memperbanyak ibadah wajib dan sunnah.

8.    Empat Perkara Harus Dilakukan.
Ada empatperkara yang seharunya dilakukan, yaitu:
-     Jadikan hubungan dg. Allah seperti seorang budak dengan tuannya.
-     Apabila kita berhubungan dengan manusia, tanamkan perasaan senang di hati kepada mereka seperti kita menyenangi diri kita sendiri.
-     Ketika mempelajari suatu ilmu, sebaiknya ilmu yang kita pelajari adalah ilmu yang bias membuat hati kita menjadi baik dan membersihkan diri dari kemaksiatan.
-     Jangan mengumpulkan harta dunia seolah-olah kita akan kekal di dunia ini. Tapi kumpulkan lah bekal akhirat dimana disanalah tempat kita abadi.
9.    Jangan Lupa Mendo’akan Orang Tua dan Guru.

Orang tua dan guru adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita merekalah orang-orang yang tidak pamrih mengharapkan kita berhasil dalam hidup ini. Tanpa mereka kita bukanlah apa-apa dan bukan pula siapa-siapa. Setiap kali berdo’a kepada alloh, sisipkanlah sepucuk pinta untuk mereka. 

      Demikian Ulasan beberapa Tips Sukses untuk para pelajar dari Imam Al-Ghazali. Sebagai pelajar sudah tentu barang pasti tugas kita adalah belajar. Namun, tidak hanya kepandaian semata yang harus kita capai. Kerendahan hati dan sikap kita harus mencerminkan ilmu yang telah kita pelajari ,jangan sampai apa yang selama ini kita usahakan berbuah kesia-siaan.
Terimakasih semoga bermanfaat.


“Apabila niat dan tujuanmu di dalam menuntut ilmu semata-mata mencari keridhaan Allah, maka berbahagialah. Karena sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya, demikian juga ikan-ikan di tengah samudera meminta keridhaan dan kasih sayang Allah buatmu, sehingga segala tindak langkah yang kamu tempuh selalu dalam naungan ridha dan ampunanaNya."







“Kota Konstatinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukanya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan’” (H.R. Ahmad bin Hambal)

Hadist tersebut diatas di sampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa kelak akan datang pemimpin yang begitu hebatnya yang mampu merebut benteng Konstatinopel  yang kokoh. Sejak Abad ke-8, Sahabat Rasulullah SAW berusaha merebut benteng ini. Salah satunya Abu Ayyub Al Anshari, namun gagal. Baru setelah enam abad kemudian, benteng itu berhasil direbut di bawah pimpinan Muhammad Al Fatih. Karena jasanya inilah beliau diberi gelar Al Fatih (sang Pembuka) yaitu membuka kota Byzantium yang dulunya adalah Konstatinopel.
Lihatlah bagaimana imperium besar dan terkuat pada abad 8-14 Masehi, Romawi, Imperium Byzantium, dengan ibu kotanya Konstatinopel. Pada tahun1453. Negara Adi kuasa itu mampu ditaklukan oleh seorang anak muda belia yang masih berusia 21 tahun. Kota itu diubahnya menjadi kota instanbul. Dari sini kemudian Islam menebarkan kasih-sayangnya di bumi Eropa. Pemuda hebat ini bernama Muhammad Al Fatih.lantas apa yang menjadi rahasia dibalik kesuksesan orang besar pengukir sejarah sepanjang zaman ini?. Sejak kecil, Muhammad Al Fatih dididik oleh seorang wali. Beliau  tumbuh menjadi remaja yang memiliki kepribadian unggul. Beliau menjadi sultan dalam usia 19 tahun menggantikan sang Ayah. Beliau mampu memetik keberhasilan dalam hidupnya dengan sangat efektif, merebut benteng konstatinopel yang kokoh itu. Sifatnya tenang, berani, sabar menanggung penderitaan, tegas dalam membuat keputusan, dan mempunyai kemampuan mengawasi diri (self control) yang luar biasa. Kemampuanya dalam memimpin dan mengatur pemerintahan sangat menonjol.
                Muhammad Al Fatih sangat tegas terhadap musuh, Namun, lembut kalbunya bagai selembar sutra dalam menghadapi rakyat yang dipimpinya. Kebiasaan Muhammad Al Fatih unik. Beliau selalu berkeliling dimalam hari, memeriksa kondisi teman dan rakyatnya. Beliau sengaja berkeliling untuk memastikan rakyat dan kawan-kawanya menegakan shalat malam. Inilah senjata utama Muhammad Al Fatih yang selalu diasahnya dengan tulus, ikhlas dan khusyuk, ditegakanya setiap malam. Dengan “Pedang Malam” ini , timbul energi yang luar biasa dari pasukan Muhammad Al Fatih.  Sejarah mencatat Muhammad Al Fatih yang baru berusia 21 tahun berhasil menggapai sukses besar, menerobos benteng konstatinopel. Setelah dikepung beberapa bulan , maka taklulah benteng Konstatinopel.
                Suatu hari timbul persoalan, ketika pasukan Islam hendak melaksanakan shalat Jumat yang pertama kali di kota itu. Sang panglima bertanya, “Siapakah yang layak menjadi imam shalat Jumat?” tak ada jawaban.  Tak ada yang berani menawarkan diri, lalu Muhammad Al Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh rakyatnya untuk bangun berdiri. Kemudian beliau bertanya  “ Siapakah diantara kalian sejak remaja, sejak aqil baligh, hingga hari ini pernah meninggalkan shalatwajib lima waktu silakan duduk!!”  Ternyata tak seorangpun dari pasukan Islam yang duduk. Semua tegak berdiri. Apa artinya? Itu berarti, tentara islam pimpinan Muhammad Al Fatih sejak masa remaja hingga hari ini, tak seorang pun yang meninggalkan shalat fardhu. Tak sekalipun mereka melalikan shalat fardhu. Luar biasa! Lalu Muhammad Al Fatih kembali bertanya : “Siapa di antara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat Sunah Rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!!!” sebagian lainya segera duduk, Artinya , pasukan Islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat Sunah setelah maghrib, dua roka’at sebelum subuh dan shalat Rawatib lainya. Namun ada yang meninggalkanya.
                Betapa kualitas karakter dan keimana mereka sebagai Muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur, dan memiliki semangat serta komitmen yang kuat. Dengan mengedarkan pandanganya kepada seluruh rakyat dan pasukanya Muhammad Al Fatih kembari berseru lalu bertanya: “Siapakah di antara kalian sejak aqil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat Tahajud  dikesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau pernah kosong satu saja., silakan duduk!!!”. Apa yang terjadi??? Terlukislah pemandangan yang menjubkan sejarawan barat dan timur. Semua yang hadir dengan cepat duduk!!Hanya ada seorang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah dia??? Dialah, Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk benteng super power Byzantium konstatinopel. Beliaulah yang pantas menjadi imam shalat Jumat hari itu. Karena hanya Al Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah SWT, tak kosong barang semalam pun.
                Itulah sebuah kisah sejarah yang sungguh indah dalam bingkai ketakwaan kepada Allah SWT. Kisah “pedang Malam” yang merupakan rahasia sukses dari seorang pribadi pengubah sejarah, bernama Muhammad Al Fatih, orang Asia asal Turki, yang baru berusia 21 tahun. Shalat Tahajut merupakan modal yang sangat penting untuk membangun kekuatan ruhiyah dalam kesuksesan Al Fatih dikemudian hari. Sehingga Islam berjaya, berpendar-pendar cahaya nya selama 500 tahun di bumi Eropa sejak abad ke 15. Semuanya berasal dari Pedang Malam Al Fatih yang begitu luar biasa.
                Dan semoga apa yang menjadi kisah perjuangan penaklukan benteng Konstatinopel ini, menitihkan sebuah benih pelajaran berharga bagi kita semua atas pentingnya penghadapan seorang hambanya pada shalat Tahajut.  Yang ketika dalam sepertiga malam tersebut Tuhan akan turun ke langit terdekat mendengarkan doa hambanya yang memohon pertolongan serta ampunan. Dan semoga kita dapat menjalankan apa yang menjadi “pedang malam” sang Penakluk Konstatinopel yaitu Shalat Tahajut.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist Qudsi  yang artinya :

“Setiap  malam Tuhan kami turun ke langit terdekat ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Firman-Nya:” Barang siapa memohon kepada-Ku, niscaya Aku beri dia, dan barang siapa memohon ampunan kepada-ku, niscaya Aku ampuni dia.”
(H.R Bukhari dan Muslim)







sumber: buku "Belajar dengan Hati Nurani" karya akhmad muwafik




Dalam sebuah kisah, pada zaman Nabi Muhammad SAW, terdapat seorang pemuda bernama Uwais Al-Qami. Ia tinggal di negeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qami adalah anak yatim.Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh.Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai keluarga sama sekali.
                Dalam kehidupanya sehari-hari, Uwais Al-Qami bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang  lain pada siang hari.Upah yang diterimanya cukup untuk menafkahi dirinya dan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qami setiap hari.
                Uwais Al-Qami terkkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qami sering kali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah SWT. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qami setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan beliau. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, juga didengar oleh Uwais Al-Qami. Segera Uwais Al-Qami mengetok giginya hingga patah. Hal ini dilakukanya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammad SAW, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais Al-Qami untuk menemui rasulullah semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad SAW dan memandang wajah beliau dari dekat?. Ia rindu mendengar suara Nabi SAW ,kerinduan karena iman.
                Tapi bukankah ia mempunyuai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana munggikn ia tega meninggalkankanya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikiranya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad SAW.
                Akhirnya kerinduanya kepada Nabi Muhammad SAW yang selama ini dipendamnya tidak dapat ditahan lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah SAW di Madinah. Ibu Uwais Al-Qami walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qami seraya berkata, “Pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi SAW di rumahnya. Dan apabila telah berjumpa dengan Nabi SAW, segeralah engakau kembali pulang”.
                Betapa gembira hati Uwais Al-Qami mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun ,ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkanya, serta berpesan kepada tetagganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qami menuju ke Madinah.
                Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qami sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad SAW. Setelah ia menemukan rumah Nabi,diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah sesorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qami menanyakan Nabi Muhammad SAW yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi SAW tidak berada di rumahnya,beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qami hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah RA, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan nabi SAW, tetapi Nabi SAW tidak dapat dijumpainya.
                Dalam hati Uwais Al-Qami bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi kapankah Nabi SAW pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman,”Engkau harus lekas pulang!”.
                Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan sang ibu mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qami dengan terpaksa pamit  kepada Siti Aisyah RA untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW. Setelah itu , Uwais Al-Qami segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan teramat sedih.
                Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah. Nabi Saw menanyakan kepada Siti Aisyah RA tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qami, anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi SAW, Siti Aisyah RA dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah RA, memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan  sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terllu lama. Nabi Muhammad SAW  melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qami, penghuni langit itu kepada para sahabatnya, ‘Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tanganya”.
                Sesudah itu Nabi SAW memandang kepada Ali RA dan Umar RA seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi”.
                Waktu terus berganti, dan Nabi SAW kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika , Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW tentang Uwais Al-Qami, sang penghuni langit. Beliau segera mengingtkan kembali sabda Nabi SAW itu kepada Ali bin Abi Thalib RA. Sejak saat itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Kalifah Umar RA dan Ali RA selalu menanyakan tentang Uwais Al-Qami, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari>.
                Mengapa kalifah Umar RA dan sahabat Nabi, Ali RA, selalu menanyakan dia? Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qami turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar RA dan Ali RA mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qami turut bersama mereka. Rombongan kafilah  itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qami ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar RA dan Ali RA segera pergi menjumpai Uwais Al-Qami.
                Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar Ra dan Ali RA memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya degan salam. Uwais menjawab salam khalifah  Umar RA dan Ali RA dengan segera mendekati kedua sahabta Nabi SAW ini, serta mengulurkan tanganya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar RA dengan segera membalikan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi SAW. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qami.
                Wajah Uwais Al-Qami tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi SAW bahwa dia adalah penghuni langit. Khalifah Umar RA dan Ali RA menayakan namanya, dan di jawab, “Abdullah”. Mendengar  jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “kami juga Abdullah (Hamba Allah SWT). Tapi siapakah namamu sebenarnya?”. Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qami.”Dalam pembicaraan mereka diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qami telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar RA dan Ali RA memohon agar Uwais membacakan  doa dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah, “ Sayalah yang harus meminta doa kepada kalian.”
                Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata , “ Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda.” Karena desakan kedua sahabat ini , Uwais Al-Qami akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membaca istighfar. Setelah itu Khalifah Umar RA berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
                Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qami berpulang ke Rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikanya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sanapun sudah ada orang-orang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburanya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburanya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju perkuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
                Meninggalnya Uwais Al-Qami telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamanya, padahal Uwais Al-Qami adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan  ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakanya terlebih dahulu.
                Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qami ? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembalan domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”
                Berita meninggalnya Uwais Al-Qami dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahui, siapa sebenarnya Uwais Al-Qami. Selama ini tidak ada yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qami disebabkan permintaan Uwais Al-Qami sendiri kepada khalifah Umar RA dan Ali RA, agar merahasiakan tentang dirinya. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan Nabi SAW, bahwa Uwais Al-Qami adalah penghuni langit.
                Seorang yang bersedia berbakti kepada kedua orang tuanya akan menjadikan setiap doanya mudah diterima oleh Allah SWt, bahkan sikap itu akan mengeluarkan seseorang dari masalah atau ujian yang dihadapinya dengan mudah. Lantas bagaimanakah dengan kita kawan? Sudahkah kita berbakti pada ibu ? Kepada orang tua kita?. Belum terlambat, mari lakukan sedari sekarang.



“jika kita ditanya, siapakah orang yang paling berjasa dalam kehidupan kita, yang bersedia mempertaruhkan jiwanya untuk kita, yang setiap hembusan napasnya adalah doa untuk kita. Yang cinta dan kasih sayangnya tidak pernah lapuk oleh masa, jawabnya : ‘Dialah Ibu kita, orang tua kita.’ Lalu layakkah kita tidak bersedia berbakti kepada keduan








Sumber : buku "Belajar dengan Hati Nurani" karya Ahmad Muwafik

Popular Posts